Membangun Website Seperti Traveloka

Membangun Website Seperti Traveloka

Saya sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana cara membangun website seperti Traveloka, khususnya untuk menjual kamar hotel. Berhubung saya pernah terlibat dalam membangun platform mulai dari B2B, B2C hingga B2B2C, saya bisa berbagi pengalaman dan apa yang saya ketahui perihal ini.

Platform seperti Traveloka, Tiket, Booking, Agoda dan ratusan Online Travel Agent (OTA) tersebut masuk dalam kategori B2C (Business-To-Customer). Artinya, mereka langsung menjual produk (dalam hal ini: kamar hotel) kepada customer atau tamu. 

Berbeda dengan B2B seperti MG Holiday, Hotelbeds, GTA dan ratusan wholesaler lainnya. Perusahaan B2B atau Business-To-Business menjual produknya kepada entitas bisnis atau perusahaan lain, dan tidak langsung menyentuh customer. MG Holiday, misalnya, punya ribuan travel agent offline sebagai resellernya. Anda sebagai customer mungkin tidak pernah mendengar nama MG Holiday, namun jika Anda sering membeli voucher hotel lewat travel agent kesayangan Anda, bisa jadi travel agent tersebut memesan kamar melalui MG Holiday.

Ada lagi yang dinamakan B2B2C. Yaitu Business-To-Business-To-Customer. Jadi perusahaan B2B2C ini menggabungkan model bisnis B2B dan B2C. Mereka membeli produk dari sesama perusahaan B2B, lalu menjualnya kepada customer (B2C). 

Sekarang, mari kita lihat bagaimana sebuah platform B2C bekerja.

Meskipun OTA bisa menjual produk apa saja mulai dari tiket pesawat, hotel, activities bahkan voucher restaurant, dalam artikel ini kita fokus pada produk kamar hotel saja.

*****

OTA berperan sebagai mediator antara hotel (pemilik produk) dengan tamu (customer). Karena itu, minimal sebuah OTA harus membangun 3 platform:

  1. Customer site, yaitu platform yang dilihat oleh customer untuk melakukan pemesanan kamar hotel
  2. Hotel Extranet, yaitu platform untuk Hotel memasukkan harga, inventori kamar dan semua informasi yang diperlukan. Melalui Extranet, Hotel juga bisa mengatur pemesanan yang masuk, termasuk pembayaran dari OTA.
  3. BackOffice, yaitu platform untuk keperluan internal atau staf OTA tersebut.

Dalam beberapa kasus, ada beberapa company yang menggabungkan nomor 2 dan 3, dan hanya mengatur akses sesuai dengan peranan User, apakah User adalah seorang Hotelier atau staf OTA tersebut.

Customer site

Untuk contoh customer site, pastinya Anda sudah familiar. Lihat saja OTA seperti Traveloka, Tiket, Booking dan Agoda. 

Secara general, customer site memiliki fitur:

  1. Booking engine, dimulai dari saat customer memulai pencarian, hingga saat customer selesai melakukan pemesanan.
  2. Pembayaran, yaitu pilihan pembayaran yang disediakan oleh OTA yang bisa dipilih oleh customer. Metode pembayaran bisa beragam mulai dari yang instan (kartu kredit, online banking), sampai offline (transfer bank, pembayaran di outlet seperti Alfamart). Sukses tidaknya pembayaran customer akan mempengaruhi status pemesanan yang sudah dilakukan. Untuk bisa menerima pembayaran instan, OTA harus bekerjasama dengan payment gateway. 
  3. Member area, yaitu area di mana customer sebagai member OTA bisa melakukan banyak hal seperti melacak transaksi yang sudah dilakukan, mengetahui status pemesanan, mengubah atau membatalkan pemesanan. Banyak OTA yang menyediakan bonus poin untuk setiap transaksi yang berhasil dilakukan member. 

Sampai di sini, mungkin banyak yang berpikir, ternyata mudah ya membuat website seperti Traveloka? Oh, tidak semudah itu, pemirsa.

Booking engine yang saya sebut di atas, misalnya, memiliki banyak printilan komponen seperti:

  1. Search engine atau mesin pencari yang yahud. Nggak asik kan kalau Anda cari hotel di Jogja, hasil pencarian menyuguhkan hotel-hotel di Bali? Atau mencari hotel periode tahun baru, yang muncul harga tahun lalu? Belum lagi soal kecepatan. Kalau untuk mencari hotel membutuhkan waktu lebih dari 5 menit, saya rasa customer akan sudah pergi saat itu juga karena tidak sabar menunggu.
  2. Instant confirmation. Ini bedanya transaksi online dengan offline. Apabila offline, konfirmasi dari hotel bisa tidak didapat saat itu juga. Menunggu hotel membalas email, misalnya. Namun dengan online booking, konfirmasi semestinya bisa instan sehingga customer tidak perlu menunggu lagi.

Secara visual, customer site harus tampil menarik sehingga membuat customer nyaman berselancar. Selain menarik secara visual, situs juga harus memudahkan customer melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Bahasa kerennya, UI/UX mereka yahud, cuy. User experience atau pengalaman pengguna, memegang peran sangat penting, karena kalau pengguna alias customer merasakan kebingungan saat mau melakukan transaksi, bisa dijamin customer akan segera meninggalkan situs. Batal bertransaksi. Batal mendatangkan revenue.

Customer site merupakan wajah depan yang dilihat oleh customer. Dari mana semua data tersebut berasal? Dari platform yang kita sebut BackOffice.

BackOffice

BackOffice atau apalah sebutannya (setiap company bisa berbeda-beda menyebutnya) adalah platform bagi staf perusahaan. Platform ini lebih kompleks dibanding customer site.

Untuk menampilkan apa yang dibutuhkan di customer site, BackOffice setidaknya memiliki modul:

  1. Hotel profile. Ini adalah modul tempat membuat profil hotel yang terdiri dari banyak komponen seperti teks, foto, daftar room type yang dimiliki, alamat email kontak hotel yang bersangkutan dll.
  2. Hotel tariff. Ini adalah modul tempat memasukkan harga hotel, per hari. Tentu saja tidak satu hari demi satu hari, namun bisa sekaligus memasukkan harga hotel untuk setahun, meskipun disimpan dalam tabel secara harian sehingga harga bisa dinamis dari satu hari ke hari lainnya.
  3. Allotment. Terkadang juga disebut room inventory. Modul ini adalah tempat mengupdate ketersediaan kamar. Ketersediaan ini bisa berupa angka kamar yang disediakan (misalnya: 10 kamar) sehingga jika sama dengan 0 berarti kamar tidak tersedia, bisa juga berupa status Closed Out (kamar sama sekali tidak dijual pada tanggal tertentu), No Arrival (tidak boleh check-in pada tanggal tertentu), No Departure (tidak boleh check-out pada tanggal tertentu) dst. Penamaan status bisa berbeda-beda untuk tiap OTA.
  4. Booking. Modul ini tentu saja untuk manage booking atau reservasi yang diterima dari customer site. Setiap detail data setiap booking disimpan, mulai dari nama tamu, tanggal check-in, tanggal check-out, room category, jumlah kamar yang dipesan dan masih banyak lagi data yang disimpan. 
  5. Promotion tools. Modul ini adalah alat untuk membuat promosi. Banyak tipe promosi, dan juga apakah promosi disediakan oleh OTA, oleh Hotel itu sendiri, atau oleh third party seperti pihak bank atau kartu kredit.

Lima modul di atas wajib ada, dengan pengaturan dan layout tergantung pada masing-masing OTA. Modul-modul lainnya seperti finance, report, juga wajib disediakan, namun untuk menampilkan produk di customer site, paling tidak lima modul di atas yang wajib ada di setiap BackOffice.

Hotel Extranet

Pada intinya, hotel extranet sama dengan BackOffice. Hanya dibedakan dari penggunanya saja. Karena pengguna Hotel Extranet adalah staf Hotel, maka informasi yang bisa pengguna lihat adalah yang berhubungan dengan Hotel mereka sendiri. Sementara di BackOffice, karena penggunanya adalah staf OTA, mereka bisa melihat data semua hotel (tergantung role dan akses yang diberikan).

Karena tidak banyak berbeda, beberapa company tidak secara khusus membuat platform hotel extranet, melainkan memanfaatkan BackOffice dan memberi akses kepada Hotel yang membutuhkan.

Third-party supplier

Sepintas, penjelasan di atas masih terlihat sederhana. Oh, ternyata begitu doang? Mungkin itu kata Anda. Tapi, sekali lagi, tidak semudah itu, pemirsa.

Untuk menjamin ketersediaan kamar, OTA menyediakan ratusan ribu hotel di platform mereka. Untuk OTA yang sudah terbilang raksasa, boleh jadi mereka melakukan direct contract ke hotel secara langsung.

Namun banyak juga OTA yang bekerjasama dengan company lain agar mereka bisa menghemat biaya operasional namun tetap bisa menyediakan hotel-hotel sesuai yang diinginkan customer.

Kerjasama dengan supplier lain ini bisa jadi dengan B2B company (meskipun sebenarnya harga B2B harus mengikuti ketentuan khusus jika hendak dipajang di OTA), atau dengan sesama B2C. Misalnya Agoda, mereka juga “menyerap” harga dari Booking. 

Channel manager

Ada lagi makhluk yang dinamakan channel manager, yang sudah menjadi hal wajib untuk disediakan oleh OTA.

Bayangkan, Anda baru saja membangun OTA dan mengontak beberapa hotel agar mereka mau menjual kamar mereka lewat OTA Anda.

Tanggapan dari hotel bisa jadi, “Sudah terkoneksi dengan channel manager apa?”

Dan kalau jawaban Anda adalah “belum sama sekali”, Hotel bisa bilang, “Wah kami sudah terlalu banyak partner OTA, jadi apabila Anda tidak terkoneksi dengan channel manager, kami tidak bisa bekerja sama dengan Anda.”

Di tahun 2019, ada sekitar 400 OTA (bahkan bisa lebih jika dihitung OTA yang beroperasi secara lokal). Bayangkan jika Hotel harus login ke tiap-tiap extranet untuk mengupdate harga dan allotment. Bisa gempor kan?

Jika terkoneksi dengan channel manager, seperti Siteminder, Hotel hanya cukup login satu kali, update harga dan allotment dan itu akan terdistribusi langsung ke setiap OTA/Wholesaler yang terkoneksi dengan Siteminder.

*****

Penjabaran di atas adalah penjabaran sederhana untuk menjawab pertanyaan jika Anda ingin membangun website seperti Traveloka. Pada praktiknya, jauh lebih rumit dan banyak detail yang harus dirumuskan secara teliti.

Belum lagi dari segi kesiapan bisnis. Teknologi secanggih apapun tidak akan berguna jika Anda tidak punya tim marketing yang handal, tim contracting yang bisa mengakuisisi hotel secara cepat dan mendapatkan deal yang bagus, dan tim-tim lain yang bisa membuat OTA Anda berhasil di pasaran.

Jika Anda pelaku bisnis kecil/menengah, tentu Anda tidak perlu membuat website seperti Traveloka. Anda tidak harus menjadi gajah untuk melawan gajah. Bahkan, Anda tidak perlu melawan para pelaku bisnis raksasa, karena terus terang, itu percuma.

Anda perlu mencari strategi lain untuk tetap eksis di tengah persaingan yang makin sengit. Jangan jadi pelanduk yang mati terjepit di antara gajah-gajah. Jadilah kancil yang cerdik.

Ingin tahu strategi untuk pelaku bisnis kecil/menengah, utamanya untuk melawan para OTA raksasa? Pantengin terus blog saya ini ya!

Tertarik mendapatkan update dari blog ini secara rutin? Berlangganan yuks! No spam, guaranteed!​