Perjalanan Karir di Dunia Web Development

Perjalanan Saya Di Dunia Web Development

Saya memulai karir sebagai staf reservasi di MG Holiday, di tahun 2001. Sekarang, pekerjaan saya lebih banyak berhubungan dengan product dan project management. Saya tahu saya masih jauh dari kata “hebat”, namun saya ingin berbagi pengalaman, siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Awal karir

Setelah berkantor di MG Holiday Semarang selama 2 tahun, pada tahun 2003 saya dipindah ke kantor cabang MG Holiday Bali. Perpindahan ini membawa banyak perubahan dalam karir saya. Bali, boleh dikata masih menjadi pusat industri pariwisata di Indonesia. Networking saya berkembang pesat. 

Di awal berdirinya, MG Holiday sebagai wholesaler travel agent masih memakai sistem manual. Reservasi diterima dari retail travel agent melalui telepon, fax atau email, lalu diteruskan ke pihak hotel dengan telepon, fax atau email juga. Voucher hotel diprint secara manual dan dikirim via fax ke hotel.

Tahun 2005 (kalau tidak salah), MG Holiday mulai menggunakan online booking system. Bikinan sendiri. Baru beberapa tahun setelahnya (saya lupa tahunnya), MG Holiday menggunakan system dari 11-infotech.

Saya mulai kebagian tugas untuk presentasi dan training staf Hotel, bagaimana cara kerja online booking system ala MG, dan cara menggunakan extranet ala system 11-infotech.

Booking mulai terotomatisasi, terkirim ke hotel lewat email, begitu juga dengan voucher sebagai tanda guarantee. 

Berkenalan dengan web development

Di tahun 2009, saya keluar dari MG Holiday dan bergabung dengan sebuah startup di Bali. Saya mulai berkenalan dengan dunia web development.

Saat itu, kami hendak mendirikan wholesaler travel agent seperti MG Holiday. Kami memilih GoQuo sebagai partner penyedia online booking system kami. Sedangkan untuk customer site, kami mempekerjakan web development agency di Bali.

Saya mulai berkenalan dengan web development. Apa yang dimaksud dengan sitemap dan wireframe. Apa yang dimaksud dengan front-end dan back-end. Bagaimana merancang halaman agar cantik secara visual dan memudahkan pengunjung untuk melakukan aktivitas selama berada di halaman tersebut.

Sayangnya, projek tersebut berhenti karena alasan finansial.

Pelajaran pahit selanjutnya

Saya kemudian berlabuh di sebuah travel agent konvensional. Owner menawarkan kesempatan untuk saya dan teman-teman bergabung, dan saya mengusulkan agar kami bisa membangun situs online travel agent macam Agoda. 

Berbekal pengalaman saya sebelumnya di projek startup gagal tersebut, saya mencari web development agency. Di tahun 2010, tidak banyak pilihan dan teknologi belum semumpuni sekarang (pun saya masih goblok, hanya merasa pintar saja sebenarnya).

Kami bekerja sama dengan company di Surabaya. Kami bertemu muka, kick-off project, dan ternyata, membuat sebuah system itu tidak mudah.

Ada malam-malam di mana saya di Bali, online dengan programmer di Surabaya, untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan allotment itu. Apa saja yang mempengaruhi allotment. Bagaimana allotment bisa berkurang, dan bagaimana allotment bisa bertambah, dan bagaimana semua itu dimunculkan di customer site secara instan dan mulus. Sungguh tidak mudah.

Kembali, projek ini gagal karena company di Surabaya tersebut tidak berhasil memenuhi keinginan kami untuk membangun sebuah online booking system.

Berdasar pengalaman inilah, jika ada orang yang menganggap enteng membuat online booking system itu, saya cuma berkata, “Tidak semudah itu, Ferguso.”

Menjadi project manager

Tahun 2011, saya pindah ke Jakarta, bergabung dengan sebuah online travel agent bernama GONLA di bawah naungan Bakrie Group. Saat itu belum ada Traveloka. Tiket pun belum lahir saat kami kick-off project (dan ternyata Tiket lahir duluan ketimbang kami). 

Periode ini benar-benar menempa saya, tidak hanya mengerti web dan system development, namun juga berkenalan dengan banyak konsep seputar project management. Scrum, Waterfall, Agile, adalah kata asing bagi saya waktu itu. Namun, saya percaya diri menerima tantangan sebagai Head of Special Project yang sehari-harinya berperan sebagai Project Manager.

Kami berhasil merilis situs OTA Gonla.com di pertengahan tahun 2012. Saya keluar di awal tahun 2013, dan di akhir tahun 2013, GONLA mulai kehabisan nafas.

Di periode ini, saya mendapatkan banyak pelajaran tentang bagaimana membuat sebuah system dari nol.

Kembali ke B2B system

Tahun 2013, saya bergabung dengan TMS Tour Bali yang fokus ke China & Taiwan Market. Singkat cerita, boss mempercayakan saya dan tim untuk membangun B2B online booking system. 

Lewat berbagai proses yang tidak semuanya menyenangkan, pertengahan tahun 2014, kami meluncurkan TMS B2B Online Booking System. Sistem tersebut masih berfungsi hingga sekarang, dan tidak hanya menjual kamar hotel, namun juga produk tour, activities, restoran dan transpor.

Saya tidak bilang bahwa sistem yang kami bangun ini hebat. Masih banyak hal yang perlu ditingkatkan, terlebih di tahun 2019 ini di mana peta teknologi sudah jauh berbeda dibandingkan tahun 2014.

Sebuah pengalaman lain

Masih ingat di atas saya sempat menyebut nama GoQuo? Ya, tahun 2009, saat startup tempat saya bergabung memutuskan memakai sistem mereka, saya sempat bertemu dengan CEO GoQuo yang terbang langsung dari Kuala Lumpur. Kami kemudian berteman baik, meskipun projek kami gagal terlaksana. Di tahun 2015, beliau menghubungi saya dan singkat cerita, saya bergabung bersama mereka, berbasis di Jakarta.

Periode ini benar-benar memantapkan pengetahuan saya. Meskipun saya bertugas sebagai Market Manager, namun pada praktiknya hampir semua saya jalani. Saya berkontribusi saat mereka hendak membangun BackOffice. Saya jadi paham cara kerja payment gateway. Ancaman fraud yang membayangi setiap transaksi. Bermacam tools baru dan modern yang digunakan. 

Berbeda saat saya mengenal GoQuo di tahun 2009, belakangan GoQuo tidak lagi melayani pelanggan online travel agent. Mereka lebih fokus pada maskapai penerbangan sebagai klien mereka. Model bisnis GoQuo boleh dikategorikan sebagai B2B2C, dengan situs maskapai sebagai media meraih customer.

Dua tahun saya bergabung bersama GoQuo. Dua tahun yang memberikan banyak ilmu baru bagi saya.

Pengembangan pribadi

Meskipun saya pernah kuliah di Ilmu Komputer FMIPA Universitas Gadjah Mada (dan tidak selesai), saya tidak menempuh pendidikan formal untuk web development. Semua saya pelajari sambil berjalan. Banyak bertanya pada teman-teman yang jauh lebih jago. Rajin googling, baca artikel, memantau sosial media siapa tahu ada info menarik di sana.

Tahun 2018, saya memutuskan belajar coding. Banyak ide saya yang belum terwujud karena belum menemukan partner programmer/developer yang tepat. Jadi saya rasa, lebih baik saya belajar sendiri.

Sampai sekarang, saat saya menulis pos ini di tahun 2019, saya masih belum menguasai satu bahasa pun. Tapi saya belum menyerah. Saya akan terus belajar dan belajar.

Di sisi lain, belajar coding memudahkan pekerjaan saya sebagai product dan project manager. Saya jadi lebih mudah berkomunikasi dengan tim programmer dan developer. Meskipun secara teknis saya tidak bisa menyampaikan dengan detil, namun saya bisa turut andil memberikan panduan untuk menemukan solusi di kala kami terbentur satu hambatan.

Dari perjalanan karir saya, banyak pelajaran yang bisa saya petik. Baik pelajaran yang bersifat positif, misalnya ilmu-ilmu baru, maupun pelajaran pahit seperti hikmah dari sebuah kegagalan. Bagi saya, tidak ada yang sia-sia. Semua menjadikan saya seperti saya yang sekarang, dan menyadarkan saya bahwa masih banyak yang harus saya pelajari.

Siapa tahu, kelak saya bisa meluncurkan produk saya sendiri. Ya, mungkin berkolaborasi dengan 1-2 teman. Siapa tahu, ya ‘kan?

Tertarik mendapatkan update dari blog ini secara rutin? Berlangganan yuks! No spam, guaranteed!​